Gambaran Umum Kabupaten Nias Utara

 
GAMBARAN UMUM DAERAH KABUPATEN NIAS UTARA
                Peta Nisut.jpg 
 
SEJARAH SINGKAT KABUPATEN NIAS UTARA
Sejak tahun 1864, Daerah Nias merupakan bagian Wilayah Residentil Tapanuli yang termasuk dalam lingkungan Government Sumatera Wesiklet. Sejak tahun 1864 secara efektif Pemerintahan Hindia Belanda mengatur Pemerintahan di Nias sebagai bagian daerah Wilayah Hindia Belanda pada waktu itu. Mulai tahun 1919 Residentil Tapanuli tidak lagi terdiri dari tiga afdeeling, tetapi telah menjadi empat afdeeling yang masing-masing dipimpin oleh seorang assisten resident, yaitu: Afdeeling Sibolga dan sekitarnya dengan Ibukota Sibolga, Afdeeling Padang Sidempuan dengan Ibukota Padang Sidempuan, Afdeeling Batak Landen dengan Ibukota Tarutung, Afdeeling Nias termasuk pulau-pulau sekitarnya (kecuali Pulau-Pulau Batu) yang merupakan Afdeeling yang baru dibentuk pada tahun 1919 dengan Ibukota Gunungsitoli.
Pembentukan Daerah Nias sebagai satu afdeeling didasarkan pada pertimbangan antropologis, namun demikian sebelumnya itu tidak ada pemerintahan yang meliputi keseluruhan daerah Nias yang didiami oleh Suku Nias. Afdeeling Nias terdiri dari dua Onderafdeeling yaitu Onderafdeeling Nias Selatan dengan Ibukota Teluk Dalam dan Onderafdeeling Nias Utara dengan Ibukota Gunungsitoli yang masing-masing dipimpin oleh seorang Controleur atau Gezeghebber.
Dibawah Onderafdeeling terdapat lagi satu tingkat pemerintahan yang disebut Distrik dan Onderdistrik yang masing-masing dipimpin oleh seorang Demang dan Asisten Demang. Batas antara masing-masing wilayah tersebut tidak ditentukan secara tegas. Onderafdeeling Nord terbagi atas satu distrik, yaitu Distrik Gunungsitoli dan empat Onderdistrik, yaitu Onderdistrik Idano Gawo, Onderdistrik Hiliguigui, Onderdistrik Lahewa, dan Onderdistrik Lahagu. Onderdistrik Zuid Nias terbagi atas satu distrik, yaitu: Distrik Teluk Dalam dan dua Onderdistrik, yaitu: Onderdistrik Balaekha dan Onderdistrik Lolowau.
Pulau-Pulau Batu pada bulan Desember 1928 dimasukkan ke dalam Wilayah Afdeeling Nias yang sebelumnya termasuk dalam wilayah Residentie Sumatera Barat dengan status sebagai Onderafdeeling, sehingga sejak saat itu Afdeeling Nias terdiri dari tiga Onderafdeeling yaitu: Onderafdeeling Nord Nias, Onderafdeeling Zuid Nias dan Onderafdeeling der Batu Eilanden. Tingkat pemerintahan yang berada dibawah Distrik dan Onderdistrik ialah Banua (Kampung) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Salawa (Nias Utara) dan si Ulu (Nias Selatan), yang merupakan pemerintahan asli di Nias, yang keberadaannya itu dikokohkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai tingkat pemerintahan yang paling bawah.
Pada zaman pendudukan Jepang, sebagaimana halnya di seluruh Indonesia waktu itu berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1942 pembagian wilayah pemerintahan di Daerah Nias tidak mengalami perubahan, sama seperti pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kecuali Onderafdeeling dihilangkan, yang mengalami perubahan, hanya namanya saja yaitu: Afdeeling diganti dengan nama Gunsu Sibu yang dipimpin oleh seorang Setyotyo, Distrik diganti dengan nama Gun yang dipimpin oleh seorang Guntyo, Onderdistrik diganti dengan nama Fuku Gu yang dipimpin oleh seorang Fuku Guntyo.
Mengenai pengaturan pemerintahan juga didasarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1942 yang mengatakan bahwa semua badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan Undang-Undang dari pemerintahan Hindia Belanda untuk sementara diakui sah asal tidak bertentangan dengan aturan Pemerintahan Militer Jepang.
Pada tahun-tahun pertama zaman kemerdekaan pembagian wilayah pemerintahan di daerah Nias tidak mengalami perubahan, demikian juga struktur pemerintahan, yang berubah hanya nama wilayah dan nama pimpinan sebagai berikut: Nias Gunsu Sibu diganti nama Pemerintahan Nias yang dipimpin oleh Kepala Luhak. Gun diganti dengan nama Urung yang dipimpin oleh seorang Asisten Kepala Urung (Demang). Fuku Gun diganti dengan nama Urung Kecil yang dipimpin oleh Kepala Urung Kecil (Asisten Demang).
Sesuai dengan jumlah distrik dan Onderdistrik pada zaman Belanda, pembagian nama tetap berlaku pada zaman Jepang, maka pada awal kemerdekaan terdapat sembilan kecamatan. Hanya saja diantara kecamatan itu terdapat tiga kecamatan yang mengalami perubahan nama dan lokasi Ibukota yaitu: Onderdistrik Hiliguigui menjadi Kecamatan Tuhemberua dengan Ibukota Tuhemberua. Onderdistrik Lahagu menjadi Kecamatan Mandrehe dengan Ibukota Mandrehe. Onderdistrik Balaekha menjadi kecamatan Lahusa dengan Ibukota Lahusa.
Pada tahun 1946 Daerah Nias berubah dari Pemerintahan Nias menjadi Kabupaten Nias dengan dipimpin oleh seorang Bupati. Pada tahun 1953 dibentuk tiga kecamatan yaitu: Kecamatan Gido yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Gunungsitoli dan sebagian diambil dari kecamatan Idano Gawo, dengan Ibu Kota Lahemo, Kecamatan Gomo yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Idano Gawo dan sebagian dari wilayah Kecamatan Lahusa, dengan Ibu Kota Gomo. Kecamatan Alasa yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Lahewa, sebagian dari wilayah Kecamatan Tuhemberua dan sebagian dari wilayah Kecamatan Mandrehe dengan Ibu Kota Ombolata.
Pada tahun 1956 dibentuk satu kecamatan baru yaitu kecamatan Sirombu yang wilayahnya sebagian dari wilayah Kecamatan Mandrehe dan sebagian dari wilayah Kecamatan Lolowau. Kemudian berdasarkan PP. No. 35 tahun 1992 tanggal 13 Juli 1992 terbentuk dua Kecamatan baru yaitu Kecamatan Lolofitu Moi yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Gido dan Kecamatan Mandrehe, dan Kecamatan Hiliduho yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Gunungsitoli. Berdasarkan PP No. 1 tahun 1996 tanggal 3 Januari 1996 terbentuk dua kecamatan baru yaitu: Kecamatan Amandraya yang wilayahnya sebagian dari kecamatan Teluk Dalam, kecamatan Gomo, dan kecamatan Lahusa, Kecamatan Lolomatua yang wilayahnya sebagian dari kecamatan Lolowa’u.
Terakhir dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dengan mempedomani Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Kecamatan maka melalui Perda Kabupaten Nias No. 6 tahun 2000 tanggal 24 November 2000 tentang Pembentukan 5 (lima) Kecamatan di Kabupaten Nias. Lima Kecamatan Pembantu yang  masih  tersisa  selama ini akhirnya ditetapkan sebagai Kecamatan yang defenitif, masing-masing: Kecamatan Hibala yang wilayahnya berasal dari Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kecamatan Bawolato yang wilayahnya berasal dari Kecamatan Idanogawo, Kecamatan Namohalu Esiwa, wilayahnya sebagian dari Kecamatan Alasa dan Kecamatan Tuhemberua, Kecamatan Lotu yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Tuhemberua dan Kecamatan Lahewa, Kecamatan Afulu yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Lahewa  dan Kecamatan Alasa.
Pada tahun 1956 dengan Undang-Undang No. 7 tahun 1956 Kabupaten Nias ditetapkan sebagai daerah otonom yang disebut Daerah Swatantra Kabupaten Daerah Tingkat II Nias, yang dipimpin oleh Bupati Kepala Daerah. Disamping Bupati Kepala Daerah dibentuk Dewan Pemerintahan Daerah yang dipilih dari anggota DPRD. Kemudian pada tahun 1961 sampai dengan tahun 1969 Ketua DPRD langsung dirangkap oleh Bupati Kepala Daerah. Untuk membantu Bupati Kepala Daerah dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-sehari dibentuk Badan Pemerintahan Harian yang dikatakan sebagai ganti DPD yang telah dihapuskan. Akan tetapi kemudian sejak tahun 1969 sampai dengan saat berlakunya Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di daerah, lembaga BPH sebagai Pembantu Kepala Daerah dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari tidak pernah diadakan lagi.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan pemerintahan di Kabupaten Nias, mengikuti perubahan-perubahan tentang Pemerintahan di daerah yang berlaku secara nasional. Desa/Kelurahan sebagai tingkat pemerintahan yang paling bawah, di Kabupaten Nias terdapat sebanyak 657 buah. Desa/Kelurahan tersebut karena persekutuan masyarakat menurut hukum setempat, yang dahulunya masing-masing berdiri sendiri-sendiri tanpa ada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi yang mencakup beberapa atau keseluruhan desa/kelurahan itu. Sejak awal kemerdekaan sampai tahun 1967 terdapat satu tingkat pemerintahan lagi diantara Kecamatan dengan Desa/Kelurahan yang disebut "Ö R I" yang meliputi beberapa desa. Memang ÖRI ini sejak dahulu telah ada yang dibentuk karena perserikatan beberapa desa yang menyangkut Pesta, sedang masalah-masalah pemerintahan desa langsung diatur oleh masing-masing desa. ÖRI sebagai salah satu tingkat pemerintahan di Daerah Tingkat II Nias dihapuskan pada tahun 1965 dengan surat Keputusan Gubernur pada tanggal 26 Juli 1965 Nomor : 222/V/GSU dengan tidak menyebutkan alasan-alasan yang jelas.
Selanjutnya berdasarkan keputusan DPRD Kabupaten Nias Nomor: 02/KPTS/2000 tanggal 1 Mei 2000 tentang persetujuan pemekaran Kabupaten Nias menjadi dua kabupaten, Keputusan DPRD Propinsi Sumatera Utara Nomor : 19/K/2002 tanggal 25 Agustus 2002, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2002 tanggal 25 Februari 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakphak Barat, dan Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2002 dan tanggal 28 Juli 2003, maka Kabupaten Nias resmi dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan.
Kemudian berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias adalah Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Kabupaten-Kabupaten di Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092), yang merupakan kabupaten asal Kabupaten Nias Utara.
Kabupaten Nias Utara adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008, sebagai salah satu hasil pemekaran dari Kabupaten Nias. Nias Utara adalah satu - satunya daerah kabupaten yang memilki objek wisata berupa danau di wilayah pulau nias yaitu Danau Megötö. Selain itu kabupaten ini juga terkenal dengan objek wisata Pantai pasir berbisik (Gawu Sifakiki) yang terletak di desa Sifahandro, kecamatan Sawo. Selain itu, di terdapat juga objek wisata Air Terjun Luaha Ndroi yang berlokasi di desa Fulolo, Kecamatan Alasa.
Awal diresmikan, Pemerintah Kabupaten Nias Utara dipimpin oleh Edward Zega sebagai Bupati dan Fangato Lase sebagai Wakil Bupati. Selanjutnya pada Periode 2016-2021, Pemerintah Kabupaten Nias Utara saat ini dipimpin oleh Bupati MARSELINUS INGATI NAZARA, A.Md dan Wakil Bupati HAOGOSOCHI HULU, SE, MM.

LETAK DAN GEOGRAFI
Kabupaten Nias Utara merupakan salah satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Nias pada tahun 2010 dengan Ibukota Lotu. Wilayah Kabupaten Nias Utara berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Samudera Hindia.
Sebelah Selatan : Kecamatan Hiliduho dan Kecamatan Botomuzoi di Kabupaten Nias serta Kecamatan Mandrehe Utara, Kecamatan Mandrehe, dan Kecamatan Moro’ di Kabupaten Nias Barat.
Sebelah Timur                                  : Samudera Indonesia serta Kecamatan Gunungsitoli Utara dan Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa di Kota Gunungsitoli.
Sebelah Barat        : Samudera Hindia.

Luas wilayah Kabupaten Nias Utara adalah 1.501,63 Km2 yang terdiri dari 11 Kecamatan dan 113 Desa/Kelurahan (112 Desa dan 1 Kelurahan). Adapun 11 Kecamatan dimaksud yaitu : Kecamatan Alasa, Namohalu Esiwa, Lahewa, Lotu, Tuhemberua, Afulu, Alasa Talu Muzoi, Lahewa Timur, Sawo, Sitolu Ori dan Tugala Oyo.
Kecamatan dengan wilayah yang paling luas yaitu Kecamatan Lahewa dengan luas 228,70 km2,Alasa 204,41 km2, Lahewa Timur 204,12 km2, kemudian disusul oleh Kecamatan lainnya. Sedangkan luas wilayah yang paling kecil adalah Kecamatan Tuhemberua dengan luas 55,96 km2. Letak geografis berada pada 1o03’00’’ -1o33’00’’ LU dan 97o00’ 00’’ - 99o00’00’’LS.
Kondisi alam atau topografi daratan Kabupaten Nias Utara sebahagian besar berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan dengan tinggi di atas permukaan laut bervariasi antara 0 - 478 m, yang terdiri dari dataran rendah hingga bergelombang, dari tanah bergelombang hingga berbukit-bukit dan dari berbukit hingga  pegunungan. Akibat kondisi alam yang demikian mengakibatkan adanya  sungai-sungai kecil, sedang, atau besar yang ditemui hampir di seluruh kecamatan yang berjumlah total 50 sungai.
Kabupaten Nias Utara  terdiri dari 15 buah pulau besar dan kecil. Banyaknya pulau yang dihuni 6 pulau, sementara yang tidak dihuni sebanyak 9 pulau.

Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Nias Utara 2015
No. Kecamatan Luas Wilayah (Ha)
1 Tugala Oyo 134,43
2 Alasa 204,41
3 Alasa Talumuzoi 94,04
4 Namohalu Esiwa 150,78
5 Sitolu Ori 78,81
6 Tuhemberua 55,96
7 Sawo 90,49
8 Lotu 110,11
9 Lahewa Timur 204,12
10 Afulu 149,78
11 Lahewa 228,70
  Jumlah 1.501,63

TOPOGRAFI, HIDROLOGI DAN IKLIM
Wilayah Kabupaten Nias Utara didominasi oleh perbukitan yang sempit dan terjal, serta pegunungan dengan tinggi di atas permukaan laut bervariasi antara 0 – 478 m, yang terdiri dari dataran rendah hingga bergelombang, dari tanah bergelombang hingga berbukit-bukit dan dari berbukit hingga pegunungan. Struktur permukaan tanah berbongkahbongkah
dan membentuk banyak sekali aliran sungai atau sumber mata air. Kondisi ini yang menyebabkan ketidakmudahan untuk membangun infrastruktur jalan yang lurus dan kokoh.
Di wilayah Kabupaten Nias Utara terdapat cukup banyak sungai yang mengalir dari pegunungan menuju ke arah perairan laut di sekeliling pulau (sekitar 67 sungai). Namun kebanyakan sungai-sungai tersebut tidak terlalu besar, sehingga tidak semua sungai tercatat memiliki nama. Banyak diantara sungai-sungai tersebut yang sudah mengalami pendangkalan akibat endapan pasir, yang sebagian diakibatkan oleh penggunaan lahan non-pertanian di kawasan penyangga dan kawasan lindung yang kurang tepat sehingga mengakibatkan sedimentasi. Selain itu akibat berubahnya fungsi kawasan resapan air maka fluktuasi debit sungai pada musim kemarau dan musim hujan cukup besar, sehingga
pada kawasan tertentu sering mengalami banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Penduduk yang bermukim di sepanjang jalur sungai tersebut pada awalnya memanfaatkan sungai untuk keperluan mandi dan cuci. Namun dengan semakin menurunnya kualitas air sungai, pemanfaatan tersebut semakin berkurang. Saat ini
sungai lebih banyak digunakan sebagai saluran drainase dan tempat pembuangan limbah rumah tangga, sehingga jika tidak dikendalikan akan semakin memperburuk kualitas air sungai.
Sebagai pulau yang terpisah dari dataran Sumatera, iklim di Pulau Nias dan juga di Kabupaten Nias Utara dipengaruhi oleh angin muson yang membawa butiran air dari Samudera Indonesia. Hal ini menyebabkan curah hujan relatif cukup tinggi dan berlangsung sepanjang tahun. Akibat letak Kepulauan Nias dekat dengan garis khatulistiwa, maka curah hujan
setiap tahun cukup tinggi di Kabupaten Nias Utara. Pada tahun 2016 rata-rata curah hujan mencapai 251 mm dengan banyaknya hari hujan mencapai rata-rata 23,75 hari perbulan, penyinaran matahari rata-rata 53% per bulan, kecepatan angin rata-rata sebesar 5,3 knot/jam, dengan arah terbanyak ke Utara. Suhu rata-rata 26,7oC (antara 23,2oC dan 31oC)
dan rata-rata kelembaban 91%.

WILAYAH ADMINISTRATIF

Kabupaten Nias Utara dengan ibu kotanya Lotu. Seluruh desa dan kelurahan yang terdapat di Kabupaten Nias Utara merupakan desa/kelurahan Swadaya. Klasifikasi ini merupakan ukuran kemajuan yang dicapai suatu desa dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan ketertiban, sosialbudaya, dan kedaulatan politik masyarakatnya. Dengan kata lain yang hamper seluruh masyarakatnya mampu memenuhi kebutuhannya dengan cara mengadakan sendiri.
Dikatakan Desa Swadaya apabila tingkat kemajuan indicator tersebut di atas di bawah tingkat kemajuan kota dan nasional, Desa Swakarya apabila tingkat kemajuan indicator tersebut di atas sama atau lebih besar bila dibanding tingkat kemajuan di kabupaten/kota tetapi lebih rendah bila dibanding dengan nasional, dan Desa Swasembada apabila tingkat kemajuan indicator tersebut di atas sama atau lebih besar bila dibanding dengan kemajuan tingkat nasional.
Jumlah desa yang paling banyak terdapat di Kecamatan Lahewa dengan jumlah 20 desa dan 1 kelurahan. Sedangkan yang paling sedikit adalah Kecamatan Alasa Talumuzoi dan Sitolu Ori masing-masing 6 desa.

Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Klasifikasi di Kabupaten Nias Utara 2015
No Kecamatan Banyak Desa/ Kelurahan Desa/Kelurahan
Swadaya Swakarsa Swasembada
1 Tugala Oyo 8 desa 8 0 0
2 Alasa 14 desa 14 0 0
3 Alasa Talumuzoi 6 desa 6 0 0
4 Namohalu Esiwa 11 desa 11 0 0
5 Sitolu Ori 6 desa 6 0 0
6 Tuhemberua 8 desa 8 0 0
7 Sawo 10 desa 10 0 0
8 Lotu 13 desa 13 0 0
9 Lahewa Timur 7 desa 7 0 0
10 Afulu 9 desa 9 0 0
11 Lahewa 20/1 Kelurahan 21 0 0
  Jumlah 113 113 0 0


SEKTOR KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN
Jumlah penduduk Kabupaten Nias Utara tahun 2016 adalah 135.013 jiwa dengan laju pertumbuhan 0,83%, terdiri dari 66.816 laki-laki dan 68.197 wanita (rasio: 97,97). Kepadatan penduduk mencapai 89,92 orang/km2.
Secara umum, perkembangan akta perkawinan  yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias, mengalami peningkatanya itu dari 2.311 pada 2014 menjadi 3.387 akta perkawinan pada 2015. Demikian juga perkembangan akta kelahiran yang dikeluarkan, meningkat dari 29.156 pada tahun 2014 menjadi 34.851 pada tahun 2015.
Pada tahun 2015, terdapat 63.863 penduduk yang tergolong dalam Angkatan Kerja, terdiri dari 61.297 yang berkategori “bekerja” dan 2.566 penduduk menganggur. Tingkat Partisipasi Angkatan kerja di Tahun 2015 untuk Kabupaten Nias Utara adalah sebesar 79,13 persen artinya dari 100 penduduk usia 15 tahunkeatas, sekitar 79 orang memproduksi barang dan jasa pada periode tertentu. Sedangkan Tingkat Pengangguran terbuka sebesar 4,02 persen. Selanjutnya pada tahun 2016, Angkatan Kerja berjumlah 63.863 orang (61.297 orang yang bekerja dan 2.566 orang pengangguran) dan bukan Angkatan Kerja berjumlah 16.845 orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAT) sebesar 79,13 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,02.

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Nias Utara Tahun 2015
No Kecamatan Penduduk Rasio Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Tugala Oyo 3.073 3.124 6.197 98,37
2 Alasa 10.444 10.716 21.160 97,46
3 Alasa Talumuzoi 3.397 3.415 6.812 99,47
4 Namohalu Esiwa 6.161 6.346 12.507 97,08
5 Sitolu Ori 5.976 5.976 11.950 100,03
6 Tuhemberua 5.345 5.469 10.814 97,73
7 Sawo 4.858 4.993 9.851 97,30
8 Lotu 5.637 5.730 11.367 98,38
9 Lahewa Timur 5.175 5.233 10.408 98,89
10 Afulu 5.544 5.705 11.249 97,18
11 Lahewa 10.696 10.886 21.582 98,25
  Jumlah 66.306 67.591 133.897 98,10







 

Daftar Permohonan

Permohonan Diterbitkan

Permohonan Belum Diambil

Jajak Pendapat

Bagaimana menurut anda tampilan website DPMPPTSP ini?

  • Bagus – 3 Votes
    100%
  • Sedang – 0 Votes
    0%
  • Kurang Bagus – 0 Votes
    0%
Total votes: 3

Survey 1

Survey Kepuasan Masyarakat (SKM)

  Lihat Hasil